Tergelitik oleh sentilan kawanku pagi ini,aku jd teringat sebuah pengalaman menyentuh,yang pernah aku alami sekitar beberapa tahun silam .
Sore itu,aku bergegas merapikan barang-barang di meja kantor.Done for today and iam ready to going home,neither wait any longer time,finally :).
Suamiku telah menunggu di pelataran BRI Bekasi untuk pulang bersama.Aku lemparkan senyum juga lambaian tangan padanya.Kamipun meninggalkan tempat itu, menyusuri jalanan dan suasana sore yang hingar bingar.
Sampai di perempatan pintu air,laju motor kami dihentikan oleh warna merah lampu pengatur jalan.Di bawah tiang lampu dan keremangan senja,mataku terkunci pada satu sosok pria,berusia sekitar 30 tahun.Lunglai karena kedua kakinya cacat,sehingga harus terseok jika berjalan.Terbersit rasa iba,seketika aku buka tas kerjaku,mencari selembar ribuan."Aduh sial,kenapa susah sekali menemukan uang seribu rupiah,pada saat aku butuh",dalam hati aku mengumpat.
Tak lama aku pun menemukannya,tapi lampu lalu lintas keburu berwarna hijau.Maka uang tadi aku lemparkan saja pada pria itu.Dengan terkejut dia memandangku di kejauhan,lalu bersujud."Ya Allah,mengapa uang tadi harus kulempar,tiadakah cara lebih sopan",batinku bergumul.
Sesampai dirumah,wajah pria itu terus membayangiku.Aku menangis dan mengadu pada suami,dan iapun mengerti apa yang aku rasa."Mas,hanya seribu rupiah,tapi dia mau bersujud begitu,bahkan aku,kita,terkadang menganggap kecil,namun bagi orang lain betapa besar nilainya",kataku disela derai air mata.
"Mas,bantu aku mensortir isi lemarimu,barangkali ada pakaian yang sudah tak kamu pakai,lebih baik untuknya saja",rajukku pada suami.Sekitar 45 menit selesai sudah kardus pakaian itu aku tata."Harus secepatnya kuberikan",aku bertekad demikian.Malam terasa panjang.Aku tak sabar menunggu...untuk bertemu pria di simpang jalan.
Pulang kantor jadi saat yg paling aku incar,bergegas aku keluar , menaiki mobil dan melewati lampu merah pintu air.
Tapi kemana dia?Aku lihat kiri,menengok ke kanan,tak jua kutemukan.Aku menunggu,tapi batang hidungnya pun tak nampak.Hari kedua,ketiga,aku menanti...tiap hari,berangkat kerja, kardus itu selalu aku bawa,dengan harapan bisa memberi untuknya.Hari keempat,kelima...dan ya berakhir kini,aku melihatnya.
Segera aku turun dan menyerahkan kardus itu,aku sentuh tangannya,aku sentuh wajahnya,dan tersenyum.Dia balas senyumku dan "terima kasih",ujarnya singkat.
Sebulan berlalu,aku tak lagi kerap bertemu dia.Sejak aku dipindah kantor cabang lain di BRI Sumber Artha.
Sore itu,hujan deras mengguyur kota Bekasi,aku duduk di halte pintu tol barat,menunggu suamiku menjemput untuk pulang bersama.Namun tiba-tiba ponsel berdering,ada tanda pesan masuk."Dek,mas ga bs jemput,masih meeting di Priuk.Mungkin pulang agak malam.
" Wah,artinya aku harus pulang sendiri.Tapi hujan begitu deras hingga tetesannya begitu tajam menembus kulit.Bagaimana bisa berjalan untuk mencari angkutan umum."Mana ga bawa payung lg",aku mengumpat kesal.
Ditengah bimbang , kesal dan galau,tiba-tiba ada yang menyodorkan padaku payung berwarna biru muda.Agak kusam warnanya.Aku menoleh ke arah mana tangan yang memberiku tadi."Astaghfirullah,pria itu ! " . "Ga papa neng,dibawa aja dulu,biar neng ga sakit,kembaliin kapan-kapan aja",kata pria itu.Aku tercekat , mematung , dia kan ... ? Pria di bawah lampu merah...pria itu...aku bertemu dengannya lagi.
Di dalam angkutan yang membawaku pulang,aku pandangi terus payung itu,entah mengapa warna kusamnya begitu indah,seperti biasan pelangi ditepian awan.Tiada bisa kutahan titik air mataku jatuh bersama rinai hujan sore itu.Subhanallah....
¤ "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan,maka balaslah itu dengan lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu...(QS.AN-NISAA:86)
¤ Mbak ernee nur h. , kajian anda,jempol ! Trimz,
¤ 09:25 am
Also text 085235454589 II 081216852121